Jumat, 19 Juli 2013

PENCUKURAN HUTAN DI KOTA SERANG,BANTEN.

Hutan memiliki multi fungsi, mulai dari fungsi klimatologis, hidrologis, sosiologis, biologis, dan ekonomis. Fungsi klimatologis hutan erat kaitannya dengan unsur-unsur iklim seperti hujan, suhu, kelembaban, angin dan sinar matahari. Seluruh hutan yang ada di Banten berperan sebagai paru-paru seluruh ekosistem Propinsi Banten. Sulit dibayangkan, jika seorang manusia mengalami kerusakan paru-paru, maka kehidupannya mengalami banyak gangguan. Begitu pula suatu ekosistem seluas Propinsi Banten, jika hutannya mengalami kerusakan, maka ekosistem itupun menjadi punah. Jika pohon di hutan terus ditebangi, maka  ekosistem tersebut akan semakin parah.
            Gejala-gejala ekosistem yang sakit antara lain, pemasukan dan pengeluaran (siklus) air tidak terkendali, suhu dan kelembaban meningkat, sinar matahari dan angin kurang termanfaatkan dan tidak terarah. Sinar matahari yang mengenai pohon-pohonan atau vegetasi hutan, maka energinya akan dimanfaatkan dalam proses fotosintesis, sehingga terbentuk karbohidrat untuk pertumbuhan tanaman, termasuk untuk proses terbentuknya kayu. Selain itu, dalam proses fotosintesis itupun, gas karbondioksida (CO2) yang merupakan polutan di udara diserap oleh daun pohon-pohonan, dan dari proses tersebut dikeluarkan oksigen (O2) yang sangat dibutuhkan untuk pernafasan manusia. Hal inilah yang dimaksud bahwa hutan di Banten merupakan paru-parunya ekosistem Banten.
            Pemerintah Kota Serang,Banten memastikan sekitar 3060 hektar lahan mengalami krisis yang terjadi diberbagai kecamatan se kota Serang. Kerusakan lahan tersebut disebabkan akibat penebangan liar, dan sebagian besar merupakan hutan rakyat yang ditebang langsung oleh rakyat.
            Luas area lahan mencapai sekitar 18.924 hektar,dari jumlah tersebut sebagian mengalami krisis, karena disebabkan penebangan tanpa aturan oleh pemilik lahan. Dan pemerintah Kota Serang sekarang ini terus berupaya mencegah kerusakan tersebut dengan memperbaiki ekosistim hutan dan menggalakan penanaman pohon.
          Di Kota Serang, telah dilakukan langkah-langkah untuk dievaluasi terhadap kondisi lingkungan  Sebagaimana diketahui bahwa sumber daya mencakup empat kategori, pertama sumber daya alam (Natutral resources) kedua sumber daya manusia (Human resources) dan ketiga sumber daya buatan (Artificial resources) kemudian keempat sumber daya sosial (Social resources). Pembangunan kehutanan dan perkebunan merupakan bagian dari pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alam yang sifatnya dapat diperbaharui (renawble resources).
            Kemudian pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alam khususnya sumber daya hutan dan kebun bukan hanya merupakan tanggung jawab dinas kehutanan dan perkebunan, namun harus melibatkan semua stakeholder unsur pembangunan yang masyarakat, pemerintah dan swasta.
            Menurut  Ajad Sudrajad,  untuk mengantisipasi adanya kerusakan lahan tersebut, tentunya pihaknya berupaya mengajak semua elemen masyarakat maupaun pihak pengusaha agar bisa menunjang program penanaman pohon demi perbaikan hutan sekaligus sebagai gerakan sadar pengendalian hutan.
            Maraknya tindakan penebangan pohon secara liar oleh masyarakat, mengakibat lahan kritis semakin luas. Saat ini lahan kritis di Banten seluas 117 ribu hektar. Ini terjadi karena hampir mencapai 2 juta  pohon per tahun  ditebang secara liar oleh masyarakat. Semakin meluasnya lahan kritis tersebut dikarenakan kebutuhan ekonomi masyarakat. Masyarakat kerap menebang pohon di lahan miliknya lalu dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Penebangan pohon di daerah miring akan membawa dampak berbahaya, di antaranya dampak musibah longsor dan erosi. Diharapkan masyarakat mengembalikan kondisi lahan usai pohon ditebang dengan cara penanaman pohon kembali.  
            Penanaman kembali itu tidak hanya sekadar tanaman pohon kayu, tetapi bisa dikombinasikan dengan tanaman produktif serta pohon yang punya nilai ekonomis seperti mangga, rambutan, durian dan lainnya. Kementerian Kehutanan di kota serang khususnya memiliki program kebun bibit rakyat. Dalam program itu, masyarakat yang punya lahan diminta untuk mengombinasikan tanaman kayu seperti jabon dan jati dengan tanaman produktif seperti mangga, durian, nangka dan rambutan. Tanaman produktif tidak ditebang, tetapi hanya pohon kayu.   
            Dalam hal ini,upaya untuk mengurangi lahan kritis di Banten dilakukan melalui program tanam 1 miliar pohon atau One Billion Indonesian Trees (OBIT). Pada 2011 lalu, target tanam pohon di Provinsi Banten berjumlah 13,5 juta batang pohon, dan teralisasi sebanyak 13,9 juta batang pohon. Pada 2012 ini, targetnya masih sama dengan tahun lalu yakni 13,5 juta batang.  Program tanam pohon perlu digerakkan untuk mengantispasi terjadinya global warming. Sebab, banyaknya aksi penebangan pohon berakibat pada perubahan iklim yang kini tidak menentu. Masalah global warming  perlu dipikirkan dari sekarang, melalui pembangunan yang berencana dan terkonsep. Sebab jika tidak diantisipasi dari sekarang, masa depan anak-anak kita terancam dengan perubahan iklim ekstrim.
            Salah satu hal yang sangat penting dan tidak pernah menjadi perhitungan dalam AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan) adalah hilangnya oksigen yang diproduksi oleh berbagai macam flora dan fauna di dalam hutan.

Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar